Viral “Mencuri Roti karena Lapar, Anak Yatim Diikat dan Dipukuli Pemilik Toko”, Begini Kisah Sesungguhnya


Dunia maya di Indonesia kembali diramaikan kabar burung tentang kemalangan seorang bocah berusia 7 tahun. Selain kabar berbentuk tulisan banyak berkeliaran di berbagai website, dan screenshoot gambarnya juga banyak beredar dunia maya. Dibarengi dengan cerita mengharukan tentang anak yatim, cerita menggunakan nama “Abdul” sebagai pemeran utama.

***

Secara singkat, cerita yang beredar adalah sebagai berikut. Kisah pilu kembali terjadi di Indonesia. Abdul, anak yatim 7 tahun harus menahan sakit akibat dipukul setelah ketahuan mencuri 2 buah roti coklat di warung dekat rumahnya. Alasan abdul terpaksa mencuri karena sudah hampir 3 hari dirinya tidak makan akibat sang nenek (68) sedang sakit.

Abdul tinggal bersama neneknya di gubuk kecil. Ayahnya sudah lama meninggal, sementara ibunya menjadi TKI di Malaysia yang 3 bulan terakhir tidak berkirim kabar. Menurut sang Nenek, sang Ibu biasanya mengirim uang 1 juta tiap bulan. Tapi 3 bulan terakhir tidak kirim uang lagi.

Di sisi lain, disebutkan pemilik warung bernama M. Yanto. Dituliskan bahwa dia sengaja mengikat dan memukuli sang bocah sebagai sebagai efek jera agar tidak mencuri lagi. “Kecil-kecil sudah mencuri gede mau jadi apa dia,” begitu kata Yanto.

Namun, saat ditanya lebih lanjut, menurut kabar itu, Yanto menolak menjawab. “Sudahlah. Jangan banyak tanya itu bukan urusan Anda,” jelasnya sambil diterangkan kalau dia sudah memberikan uang untuk berobat. Termasuk sang nenek sudah tanda tangan surat pernyataan damai dan tidak akan menuntut.

“Semalam yang punya warung datang bawa surat suruh nenek tanda tangan,” jelas neneknya. Katanya kalau gak mau tanda tangan, si Abdul mau dibawa ke polisi. Ya, nenek takut. Nenek tanda tangan saja, lalu dikasih 100 ribu buat bawa si Abdul ke Puskesmas.

***

Lantas bagaimana sebenarnya kabar anak yatim 7 tahun yang diikat dan dipukuli pemilik toko karena mencuri 2 buah roti itu? Sebagai sebuah berita, tentu saja kabar yang beredar itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, rukun dasar jurnalistik 4 w + 1 h, tidak terpenuhi secara lengkap. Where (di mana) lokasi kejadian, tidak ada.

Who (siapa) yang terlibat juga tidak lengkap, karena hanya ada 2 nama yang disebut: Abdul dan M. Yanto. Bahkan sebutan “Abdul”-pun janggal, karena ia biasanya bersambung dengan asmaul husna. Artinya, nama subyek berita tidak akurat! When (kapan) kejadian itu juga tidak terpenuhi, karena tidak ada lokasi kejadian yang disebutkan.

Tapi bukankah foto yang terpampang sebagai bukti bahwa kejadian itu memang terjadi? Memang peristiwa itu terjadi, tapi setelah PWMU.CO menelusuri, ternyata kejadiannya bukan di Indonesia. Bahkan jika merujuk pada berbagai website Indonesia yang memberitakan serupa, bisa dikatakan bahwa peristiwa serupa ternyata hoax.

Merujuk pada foto yang tersaji, peristiwa “penyiksaan anak” itu memang nyata. Namun, yang perlu dicatat: peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia dan kejadiannya sudah berlangsung sejak lama. Tepatnya pada pertengahan Maret 2015, atau hampir tiga tahun yang lalu.

Kedua foto penyiksaan itu pertama kali ramai muncul di media sosial di kawasan Thailand dan Malaysia. Namun, pada tanggal 17 Maret 2015, sudah muncul kejelasan foto itu. Setidaknya ada 1 website dan 2 tayangan video di Youtube yang secara mendetail menceritakan tentang “penyelematan” anak tersebut.

Website yang memberikan konfirmasi di antaranya adalah democracyforburma. Beralamat di https://democracyforburma.wordpress.com/2015/03/17/update-thailand-boy-chained-beaten-rescued/, ia menceritakan tentang insiden tersebut terjadi di distrik Banglane, Nakhon Pathom, Thailand.

Pada tanggal 17 Maret itu, polisi dan tentara menyelamatkan bocah 7 tahun yang diikat tiang kayu di sebuah rumah dan dipecuti itu. Misi ini langsung dipimpin oleh kepala kepolisian Banglane, Pol Col Chatpong Sookboonchuthep. Setelah dilarikan ke rumah sakit distrik Banglane, kemudian korban dikirim ke Pusat Penitipan Anak Yayasan Anak di Nakhon Pathom.

“Siksaan” itu merupakan hukuman dari sang bibi karena si bocah tertangkap basah mencuri di sebuah toserba. Barang yang dicuri sebenarnya hanya 6 baht, tapi sang bibi harus mengganti 300 baht agar sang bocah tidak berlanjut ke kepolisian. Setelah pulang ke rumah, sang bbi sangat marah dan memukuli anak itu dan mengikatnya dengan sebuah tiang kayu.

Masih pada tanggal yang sama, juga ada video yang telah diupload di Youtube yang memperlihatkan aksi penyelamatan aparat itu. Yang pertama adalah Tv TNN 24, dengan laman di https://www.youtube.com/watch?v=GbLSkV-9lJw.

Juga ada akun bernama MGR Online VDO, pada tanggal 17 Mar 2015, juga mengupload di Youtube tentang sang bibi saat menjalani pemeriksaan di kantor kepolisian. Laman yang bisa dirujuk adalah https://www.youtube.com/watch?v=4_4vbfwhqyI. Sehari kemudian, akun ini menurunkan laporan secara lebih lengkap hingga sang anak berada di Pusat Penitipan Anak, berada di https://www.youtube.com/watch?v=ErUtW-yIY1E.

Pada tanggal 18 Maret juga ada laporan tertulis lebih lengkap tentang kronologi penyiksaan anak itu. Di antaranya yang dalam bahasa Inggris adalah http://englishnews.thaipbs.or.th/seven-year-old-boy-rescued-after-he-was-beaten-up-and-tied-to-a-pole/. Selain itu, juga ada laporan tertulis lainnya di http://www.manager.co.th/Local/ViewNews.aspx?NewsID=9580000031515

Foto ini menjadi bias saat masuk ke Indonesia, ketika pada tanggal 17 Maret, akun Akun Ardian FH memvideokan 2 gambar foto itu di Youtube. Dengan judul “Penyiksaan Anak Yang Sangat Sadis (SAVE ME)”, akun ini tidak menjelaskan bagaimana kejadian ini terjadi.

Dalam tautan lengkap https://www.youtube.com/watch?v=PgmzexmZXnY, akun Ardian FH ini hanya meninggalkan teka-teki. Yaitu memberi 2 kalimat caption dalam video itu. Yaitu “sungguh malang bocah ini” dan “siapa yang melakukannya?”

Semakin tidak jelas ketika https://extviral.wordpress.com/2015/03/page/7/ menguploadnya dengan keterangan yang berbeda. Menurut website ini, Perbuatan kejam ini diperlakukan oleh ayah kandung si bocah. Namun, kesalahan apa yang diperbuat si bocah tidak dijelaskan, karena hanya ditulis “tidaklah diketahui”.

Pada Juni 2017, barulah hoax nama “Abdul” ini muncul dengan tambahan keterangan dipukuli pemilik took karena mencuri. Di antara website yang mengunggah adalah
http://www.islaminews.com/2017/06/hanya-karena-mencuri-roti-karena.html, meski isi tulisan ini akhirnya didelete.

Namun, puncak penyebaran berita hoax tentang “Mencuri Roti karena Kelaparan, Anak Yatim Diikat dan Dipukul Pemilik Toko” ini terjadi pada bulan November 2017. Pada tanggal 22 November 2017 misalnya, tercatat viralkansaja.com, datariau.com, dan caraorangdulu.tk yang menguploadnya. Sehari kemudian ada informasitrending.com, babab.net, dakviral.com, dan ceritaviralhq.com. Sehari kemudian, 24 November 2017, ada detikwow.com, sewarga.com, dilemacinta.com, dan lain-lain.

Sekian lama berita hoax ini tidak muncul, tiba-tiba kembali viral di akhir Januari 2018 hingga sekarang. Ah, ternyata masih banyak produsen berita hoax! (abqaraya)

sumber

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel