Dicaci Anaknya Sendiri Karena Soal Makan, Nenek Ini Tak Henti Menangis, Kini Semua Menyesal

Dicaci Anaknya Sendiri Karena Soal Makan, Nenek Ini Tak Henti Menangis, Kini Semua Menyesal




Selama puluhan tahun, tak ada yang tahu siapa namanya, orang-orang hanya memanggilnya ‘Janda’ .

Katanya anak laki-laki bisa menjaga dan merawat kita di kala tua, jika punya satu anak laki-laki, dia tidak akan begitu sengsara, sayangnya ketiga anaknya perempuan.

Demi anak-anaknya, ia bekerja keras sepanjang waktu, membesarkan mereka dengan susah payah hingga ketiganya berkeluarga.

Seiring perjalanan waktu, ia pun menua. Rambutnya memutih, kulitnya keriput dan kendor seperti kertas kusut. Dan juga dia mulai sering sakit-sakitan.


Dia mulai berpikir sudah waktunya memikirkan pemakamannya.

Dia sudah terbiasa hidup mandiri dan segala sesuatunya selalu mengandalkan diri sendiri, ia tidak mau ke rumah anak-anaknya yang hanya akan menjadi seperti bola yang ditendang kesana kemari.

Dia telah memutuskan, akan bertahan di rumahnya yang juga sudah tua itu, hidup menua dalam sepi hingga ajal menjemput.

Dia mempunyai satu benda berharga yaitu sebuah “Jepitan Rambut” yang terbuat dari emas.

Sebelum dia pergi meninggalkan dunia ini, dia tidak akan meminta apa-apa kepada anak-anaknya.

Keinginannya hanya satu, mewariskan barang berharga tersebut kepada salah satu dari ketiga anaknya.

Dia ingin memberikan benda itu kepada putrinya yang paling berbakti, dengan begitu ia baru bisa pergi dengan tenang.

Tapi, siapa yang paling berbakti diantara ketiga putrinya?

Tiga anaknya setelah menikah seperti layang-layang putus, jarang pulang menjenguknya, tapi untungnya tempat tinggal ketiga putrinya itu tidak jauh dari rumahnya. Dia pun memutuskan untuk menjenguk mereka.



Paginya, ia pergi ke rumah putri sulungnya, Rosa. Rosa menikah dengan pria yang lumayan kaya di desa.

Melihat ibunya datang, Rosa menyiapkan semangkuk bubur dan sayur asin untuknya.Sumber:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel