Pelaku Penembakan di Thailand Bukan Personil Militer Biasa

Jakarta - Sedikit demi sedikit mulai terungkap siapa Jakrapanth Thomma (32), pelaku penembakan di Thailand (Mal Terminal 21) yang menewaskan 20an orang. Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Letnan Jenderal Kongcheep Tantravanich, mengungkapkan bahwa Thomma bukanlah personil militer biasa karena Ia memiliki kemampuan menembak di atas rata-rata.

"Pada umumnya, semua personil militer pasti bisa menggunakan senjata api dengan baik. Tapi, dia (Thomma) jelas memiliki lebih banyak skill," ujar Tantravanich sebagaimana dikutip dari CNN, Ahad, 9 Februari 2020.

Pernyataan Trantravanich dibenarkan oleh Kepala Penegakan Hukum Kepolisian Thailand, Mayor Jenderal Jirapob Puridet. Puridet mengatakan, Thomma adalah seorang penembak ulung sehingga tim penyelamat pun tidak main-main ketika mencoba mengevakuasi sandera di dalam Mal Terminal 21.

"Pelaku (Thomma) adalah penembak yang sangat ahli di mana ia sendiri sudah memenangkan berbagai kompetisi menembak," ujar Puridet.


Meski Thomma diakui sebagai penembak ulung, pada akhirnya ia tewas tertembak di tangan personil Second Army Region, salah satu satuan militer Thailand. Puridet berkata, Thomma ditembak karena ia tidak menunjukkan tanda-tanda kooperatif, meski negosiasi dengan melibatkan ibunya sudah dilakukan.

Di sisi lain, tambah Puridet, nyawa sandera di dalam Mal Terminal 21 juga terancam, terutama mereka yang bersembunyi di ruang pendingin. Puridet berkata, salah seorang sandera di ruang tersebut sempat mengirimkan pesan kepadanya bahwa persediaan oksigen menipis dan ia tak tahu bisa bertahan berapa lama lagi.

"Pada akhirnya kami memutuskan untuk mengambil tindakan. Ada orang yang terjebak di ruang pendingin dan mereka bisa mati kehabisan oksigen. Jadi, kami memutuskan untuk mengkonfrontir (Thomma) langsung," ujar Puridet yang menyamakan ketegangan di dalam Terminal 21 sudah seperti film Hollywood.



Hingga berita ini ditulis, korban meninggal penembakan di Thailand diketahui mencapai 26 orang. Selain itu, 52 orang cedera atau luka-luka.

Motif dari penembakan di Thailand belum terungkap lengkap. Namun , Pemerintah Thailand menyebut Thomma tengah menghadapi sengketa tanah sebelum Ia melakukan aksinya di kamp Suatham Phithak dan Terminal 21.

Sc : Tempo.co

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel